.quickedit{display:none;}
Di Indonesia ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang. Tuntutan masyarakat semakin kompleks dan persainganpun semakin ketat, apalagi dalam menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas, untuk itu perlu disiapkan sumber daya manusia  yang berkualitas,  salah satu upaya meningkatkan sumber daya manusia  adalah melalui jalur pendidikan.

Pendidikan merupakan salah satu faktor utama bagi pengembangan sumber daya manusia karena pendidikan diyakini mampu meningkatkan sumber daya manusia sehingga dapat menciptakan manusia produktif yang mampu memajukan bangsanya, (Kunaryo, 2000). Pendidikan dalam arti luas didalamnya terkandung pengertian mendidik, membimbing, mengajar dan melatih. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok.

                Setiap sekolah formal, anak-anak akan dikenalkan oleh seseorang yang disebut guru. Seorang tenaga pendidik yang memiliki pengetahuan diatas rata-rata dan kemampuan mengajar. Setiap anak  memiliki kemampuan intelektual yang berbeda-beda. Dalam hal ini dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan para tenaga pengajar.

            Keinginan setiap anak dikelas pasti menginginkan pengajar yang asik dan pengertian. Asik dalam hal dia tidak terlalu serius, ataupun bisa diajak bercanda. Namun, sekarang ini banyak guru yang hanya merasa tugasnya hanya mengajar. Memberi pelajaran, selebihnya itu urusan anak dengan orang tuanya. Padahal hampir seharian anak berada di sekolah. Dan kepribadian anak juga tergantung bagaimana dia di sekolah, dan bagaimana prilakunya terhadap teman-teman dan guru.

            Pengaruh guru dalam kepribadian dan tingkat intelektual anak sangat berpengaruh. Misal ada anak yang terlalu sensitive, merasa diacuhkan oleh gurunya dia akan merasa tertekan. Disitulah peran penting guru sebenarnya. Sebenarnya sekolah itu mengajarkan kita untuk jangan sampai kita berperilaku seperti hewan, karna kita mempunyai otak dan hati untuk hidup dan tidak seperti hewan yang hidup tanpa otak.

            Selain tenaga pengajar, tingkat intelektual anak dan kenyamanan belajar dipengaruhi oleh sarana dan prasarana yang ada di sekolan. Jika sarana dan prasarananya memadai, anak akan lebih merasa kerasan dan semangat belajar. Bagaimana lingkungan anak disekolahnya juga cukup mempengaruhi semangat belajar siswa. Apabila tempatnya bersih, nyaman maka anak akan merasa lebih semangat.

Namun, sekarang ini banyak anak dengan fasilitas memadai, lingkungan sekolah yang nyaman masih saja terkena kasus tawuran, narkoba, married by accident, dll. Menurut saya, kenakalan remaja itu diakibatkan banyak factor. Ada factor keluarga, teman sepermainan dan juga pemikiran anak yang pendek.

Factor keluarga yang kurang harmonis sangat mempengaruhi perilaku siswa. Anak yang tidak mendapat kasih sayang di keluarganya otomatis akan mencari perhatian di luar lingkungan keluarganya. Dan bisa saja, menurutnya menjadi seorang yang nakal adalah hal yang menyenangkan.

Factor teman sepermainan, anak zaman sekarang biasanya mengikuti teman sepermainannya. Si A ke kanan ya ikut ke kanan. Si B ke kiri ya ikut ke kiri. Misalnya ada anak yang berteman dengan sekumpulan perokok. Disaat dia tidak mau merokok bisa saja temannya berkata “ah cemen lo ga ngerokok. Laki bukan? Hahaha” disaat itu anak akan merasa tertantang dan mencoba hal yang baru.

Ada psikolog yang bilang. Jangan kau ambil keputusan saat kau marah. Anak dengan pemikiran yang masih labil bisa saja memutuskan segala sesuatu tanpa berpikir jernih. Misalnya, saat sedang bertengkar dengan orang tuanya dia kabur dari rumah. Bukan hal yang mustahil bukan?

Maka dari itu, di sekolah disediakan bimbingan konseling. Bimbingan konseling yang digunakan untuk memantau siswa di sekolah. Namun, tak bisa jika guru BK harus bekerja sendirian. Dibutuhkan feedback dari orang tua untuk tercapainya keinginan antara guru dan orang tua.

Tugas… Tugas… dan Tugas….
Sebenarnya saya sendiri tidak mengerti bagaimana bisa anak diharuskan mengerti dari 15 pelajaran sekolah. Bukankah tidak semua anak mempunya tingkat intelektual diatas rata-rata? Saya sendiri pernah merasakan bagaimana rasanya kepusingan dihadapi dengan berbagai macam tugas yang menjemukkan.

Hingga akhirnya saya berfikir, untuk apa saya belajar 15 pelajaran jika nanti hanya 4 yang diujikan dalam Ujian Nasional? Untuk apa saya belajar 15 pelajaran jika nanti saya hanya mengambil 4 mata kuliah saat saya duduk di tingkat sekolah tinggi? Untuk apa saya belajar 15 pelajaran jika nanti hanya satu pelajaran yang akan menjadi pekerjaan saya di masa depan kelak?


Semua belum terjawab, kurikulum pemerintah yang katanya akan segera berubah hingga kini masih tetap seperti ini. Tak ada kemajuan bahkan perubahan sedikit pun tak ada. anak-anak kini disuruh sekolah. Duduk diam di bangku dalam kelas dan diberi ilmu oleh para tenaga pendidik. Belum lagi evaluasi sehabis belajar di kelas, dan tidak lupa pekerjaan rumah yang sering sekali di berikan para tenaga pendidik.

Sekolah – belajar – pulang – pr – tidur – sekolah. Seperti itu seterusnya kegiatan anak-anak. Bagaimana tidak jenuh jika kurikulum sekolah hanya untuk memberi pelajaran. Bukannya mendidik bagaimana menjadi siswa yang baik untuk bangsanya. Malah memaksanya untuk mengerti pelajaran yang diajarkannya.
Seperti ini misalnya. Guru mtk menginginkan setiap murid bernilai bagus pada pelajarannya. Dan begitu pula dengan guru-guru lain. Mereka ingin anak-anak mendapatkan nilai bagus pada mata pelajaran yang diajarkannya. Apa mereka pikir anak dengan kemampuan otak rata-rata bisa dengan mudah mencerna semua pelajaran? TIDAK!

Belum lagi setelah pelajaran berlangsung selama 3 bulan akan diadakan mid test. Dan anak-anak harus mendapatkan nilai yang bagus di setiap pelajaran saat midtest. Jika tidak, mereka akan remedial. Menyedihkan sekali. Anak-anak itu bukan robot yang bisa kau suruh untuk mengerti ini dan itu. Mereka itu manusia sama seperti bapak dan ibu guru. Bukan hal yang salah memberikan murid pekerjaan rumah, tapi apa salahnya jika meringankan bebannya sedikit saja?

Pendidikan Indonesia di masa kini memanglah masih menjadi sorotan utama dalam krisis pengembangan Indonesia menjadi bangsa yang maju. Bukan hal yang tak mungkin jika suatu saat nanti setiap anak akan memiliki hak yang sama untuk belajar. Tak memandang status ekonomi, tingkat intelektual dan kesempurnaan bentuk tubuh.

Bukan hal yang tak mungkin juga suatu saat nanti setiap anak berhak memakai seragam yang sama dengan anak-anak satu sama lain. Bukan hal yang tak mungkin juga suatu saat nanti setiap anak lebih mementingkan sekolah dibanding mencari uang. Bukan hal yang tak mungkin juga suatu saat nanti taka da lagi orang yang tak bisa membaca.

Orang besar berkata, tak ada yang tak mungkin. Saat Tuhan menghendaki jadi maka jadilah. Tak ada salahnya bukan seorang siswa SMA berharap untuk pendidikan bangsanya di masa depan kelak?
Reaksi Anda:
Posted by Dini Nuraini On 23.44 No comments

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Kata Mutiara Hari Ini

Successful people are not gifted; they just work hard, then succeed on purpose

-GK Nielson-

Visitors

Subscribe

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Twitter Share

Translator

    My Followers

    Contact Person

    Email : Dini Nuraini
    Twitter : @dininurainii
    Facebook : Dini Nuraini